Wednesday, October 13, 2010

Day #11 : Gelap Jelang Terang

“ERIS!” Gloria mendengar teriakan Artsy dari luar rumah Eris.

Mengapa Artsy bisa tahu aku ada di sini? Tanya Gloria dalam hatinya.

Gloria melihat Eris yang kini berada di depannya diam tak bergerak dengan pisau di tangannya. Mata Eris menggambarkan rasa takut yang hebat. Cepat atau lambat, dia akan mati! Pikir Gloria dalam hati. “Kau akan tamat, Eris!” Kata Gloria. "Oh, ya? Kau mencoba membunuhku!” balas Eris dengan sengit. “Benar, kan?”

Gloria tidak membalas perkataan Eris. Kini dia hanya mencoba berpikir cepat. Aku harus melarikan diri! Tegasnya dalam hati. Dia kini berlari menuju ruang tengah dan segera menuju pintu belakang. Nafasnya tersengal-sengal. Keberadaan Artsy di depan rumah Eris membuatnya merasa tegang. Suatu saat nanti, Artsy akan mengerti. Pikir Gloria, mencoba menenangkan diri.

Gloria telah berada di depan pintu belakang. Dia langsung memutar kunci pintu yang tertempel, lalu dengan cepat membuka pintu rumah Eris. Dia sudah tamat! Pikir Gloria sambil berlari menjauhi rumah. Dia meloncati pagar kayu pembatas, lalu kembali berlari menyusuri gang yang berada di belakang rumah Eris. Sebentar lagi, Artsy akan tahu semuanya.

“Eris, buka pintunya!” Gloria dapat mendengarkan teriakan Artsy dari kejauhan.

***

Eris membuka pintu rumahnya. Dia langsung memeluk Artsy sambil menangis. Artsy bisa merasakan dekapan Eris begitu kuat, menjelaskan seberapa dalam emosi yang sedang Eris rasakan. “Gloria mencoba membunuhku!” kata Eris dalam isakannya. Tidak mungkin! Pikir Artsy.

“Dia hendak membunuhku dengan pisau dapur!” Tambah Eris sambil melepaskan pelukannya dari Artsy. Sekarang Artsy bisa melihat seberapa kacau kejadian yang baru saja terjadi, wajah Eris menggambarkannya. Selain itu, tangisan Eris pun menjelaskan bahwa dia sedang merasa ketakutan.

“Gloria bereaksi berlebihan! Mengapa dia ingin membunuhmu?” tanya Artsy kepada Eris dengan nada heran.
“Sepertinya dia ingin membunuhku karena kejadian dua bulan lalu itu.” Kata Eris. "Sekarang dia membenciku, Artsy,"
“Kejadian itu? Ya, mungkin saja.” Jawab Artsy dengan nada tak yakin. “Dimana sekarang dirinya?”
“Setelah kau berteriak, dia kabur dari rumah ini.” Jawab Eris.
“Kabur?”
“Ya. Dia kabur lewat pintu belakang rumahku.”

Sebenarnya, apa yang dia pikirkan?
Tanya Artsy dalam hatinya.
“Artsy, sebaiknya kita masuk ke dalam.” Saran Eris.
“Baiklah.” Jawab Artsy sambil berpaling dari Eris. Dia kini melihat Mooney yang sedang menggenggam ponsel berdiri di tengah pekarangan rumah Eris. "Masuk?” tanyanya pada Mooney. “Lebih baik aku di luar saja.” Jawab Mooney.

Artsy masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju ruang tengah. Eris, yang lebih dulu masuk ke dalam rumah, kini tengah terduduk di atas sofa di dalam ruangan tersebut. Dia masih terisak-isak. Artsy menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.

“Jadi, bagaimana kejadiannya?” tanya Artsy. Eris menghembuskan nafas panjang, lalu duduk lebih tegap. Ia kemudian menceritakan bagaimana Gloria hampir saja membunuhnya ketika dia sedang tidur, isi percakapannya dengan Gloria ketika mereka berdua berada di dapur, serta kekonyolan Gloria yang menggunakan alasan “mencari mentega” untuk mengelak bahwa dia berencana membunuh Eris. Ia juga bercerita tentang besarnya rasa takut yang ia alami. Eris benar-benar merasa takut seandainya Gloria datang kembali untuk membunuhnya.

Setelah selesai menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya, Eris kembali menangis. Artsy kemudian merangkulkan tangannya ke pundak Eris. “Entahlah, Eris. Kejadian ini membuatku tidak bisa berkata-kata.” Respon Artsy. “Aku merasa benar-benar bingung.”


Bersambung…

Tuesday, October 12, 2010

Day #10 : Firasat

Ada yang tak beres.

Artsy baru saja mendapatkan firasat buruk. Ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, pikirnya. Eris! Tiba-tiba saja dia terbayang akan Eris. Artsy beranjak dari depan monitor komputernya. Dia bergegas mengambil sebuah sweater hoodienya, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan muramnya. Aku harus cepat! Pikir Artsy. Aku harus segera tiba di rumahnya. Dia berlari-lari kecil menuju parkiran tempatnya tinggal dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Dia mengeluarkan mobilnya dari parkiran itu, lalu menancap gas menuju rumah Eris. Aku harus tiba sebelum pagi. Dia menyetir mobilnya dalam kegelisahan. Gloria… Mungkinkah dia… Artsy terus menerus memikirkan firasat buruknya dalam kegelisahan.

Artsy menyalakan sebatang rokok yang ia dapatkan dari dalam saku sweater hoodienya. Paranoia brengsek! Pikirnya. Ia tak yakin apakah ia sedang berada dalam keadaan delusional, tapi firasatnya terasa begitu nyata. Menurutnya, Gloria pasti akan menemui Eris, dan mereka berdua tak bisa lagi dikatakan akrab setelah kejadian dua bulan lalu. Ini salahku! Sesalnya dalam hati.

Jalanan pada dini hari itu benar-benar kosong. Mobil Artsy meraung kencang di tengah hembusan dingin angin malam. Dia berharap mobilnya bisa berjalan lebih cepat. Di antara keremangan lampu artifisial yang berdiri di atas trotoar jalan, ia melihat sososok bayangan hitam sedang berjalan sendirian. Mooney! Terkanya.

Dia menginjak pedal rem mobilnya dalam-dalam dan berhenti jauh dari tempat sosok itu kini berhenti berjalan. Artsy membuka kaca mobilnya. “Mooney!” teriaknya. Sosok itu mencari-cari darimana suara yang memanggilnya berasal. Dia melihat ke mobil yang dikendarai Artsy, lalu berlari menuju mobil itu. “Artsy?” Tanya sosok itu.
“Masuklah ke mobilku, Mooney! Kau pun harus ikut.” Jawab Artsy, terburu-buru.
“Ada apa, Artsy?”
“Cepatlah masuk! Aku akan menceritakannya di dalam.”
Mooney berlari-lari kecil memutari mobil Artsy untuk masuk melalui pintu depan mobil sebelah kiri.

Mooney kini terduduk di atas jok mobil Artsy. Tubuh lelaki itu ditutupi oleh sebuah jaket parka panjang berwarna hijau daun. Lehernya dilingkari oleh sebuah headphone. Dari headphone tersebut, Artsy bisa mendengarkan samar-samar suara gitar yang mirip dengan sebuah lagu milik the Who. “Ada apa?” Mooney bertanya pada Artsy.

Artsy kini kembali menginjak pedal gasnya cukup dalam. “Tampaknya Gloria bertemu dengan Eris.” Jawab Artsy. Ekspresi diwajah Mooney berubah dan mengisyaratkan ketidakpercayaan. “Kau bercanda! Darimana kau tahu?” Mooney kembali bertanya.
“Firasatku mengatakannya.”
“Oh! Jauhilah firasatmu! Aku tahu kau sedang paranoid.”
“Tidak separah itu, Mooney. Kini aku yakin dengan firasatku.”
“Berhentilah menghisap ganja!”
“Ganja bisa membuatku berpikir tajam.”
“Karena ganja, kau menjadi seperti ini.”
Artsy tak menjawabnya. Dia menginjak pedal gasnya semakin dalam. Kini mobilnya melaju semakin kencang.

“Hei! Kita bisa mati apabila kau menjalankan mobil dengan cara seperti ini.”
“Aku tak peduli. Eris….” Tiba-tiba kata-katanya terhenti.
“Kau sedang berada dalam paranoia, Artsy!” Kata Mooney.
“Aku tidak sedang paranoid!” bentak Artsy pada Mooney.
“Hei! Aku kira kau menyuruhku ikut untuk membantumu.”
Artsy tak menjawab lagi. Kini dia kembali memikirkan Eris.

Suara deru mesin mobil yang melaju kencang terdengar di telinga Mooney. Dia tak suka cara Artsy mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi. Akan tetapi, dalam keadaan seperti ini, mungkin tak ada salahnya mengendarai mobil seperti yang sedang Artsy lakukan. “Gloria… Apakah dia masih… Dia baik-baik saja bukan?” tanya Mooney pada Artsy. “Entahlah.” Jawab Artsy, pendek.

Selanjutnya, tak ada lagi percakapan antara Artsy dan Mooney di sepanjang perjalanan. Suasananya berubah hening dan hanya dipecah oleh suara deru mesin mobil yang sedang melaju kencang.

Artsy kini menginjak pedal rem mobilnya. Mobil itu kini berhenti di depan sebuah rumah dengan pekarangan depan yang kacau. “Rumah Eris.” Kata Mooney sembari tersenyum sinis. “Ya. Rumahnya.” Jawab Artsy, pelan.
“Kita masuk?” Tanya Mooney.
“Tentu saja.”

Mereka berdua kini keluar dari mobil Artsy. Artsy berjalan terlebih dahulu menuju pintu rumah Eris. Mooney, di belakangnya, kini tengah menyalakan sebatang rokok. Artsy beberapa kali mengetuk pintu rumah Eris. Tak ada jawaban. Dia terdiam sejenak, lalu kembali mengetuk pintu rumah itu. Mooney, yang kini tengah menghisap rokoknya, berjalan menghampiri Artsy. “Lampu di dalam menyala, tapi tak ada jawaban ketika aku mengetuk pintunya.” Kata Artsy kepada Mooney.
“Mungkin dia sudah tidur.”
“Mungkin saja.”
“Kita pulang?” tanya Mooney.
Artsy tak menjawab pertanyaan Mooney lagi.
“Oke, sebaiknya kita pulang, Artsy.”
Artsy mengetuk pintunya lagi. Tetap tak ada jawaban.
“Artsy, Ayolah!” kata Mooney.

Gelagat Artsy menandakan penolakan, tapi dia langsung membalikkan badannya membelakangi pintu. Dia dan Mooney berjalan menyusuri batu-batu di tengah pekarangan menuju mobil Artsy. Artsy mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya yang ia simpan di dalam saku sweater hoodie yang ia kenakan. Dia kembali berbalik menghadap rumah itu dari sebelah pintu mobilnya sambil menempelkan filter rokok tersebut ke bibirnya. Dia melihat ke dalam rumah melalui jendelanya yang tak tertutup oleh gordyn. Ada seseorang di dalam!

“ARTSY!” Tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan dari seseorang di dalam rumah.

Eris!

Monday, October 11, 2010

Day #7 - Day #9 : Antiklimaks

“Kau tahu bagaimana keadaaan Gloria sekarang, kan?” tanya seorang wanita pada seorang lelaki di sebuah ruangan yang muram. “Ya. Aku tahu.” Jawab lelaki itu. “Aku hanya ingin membantunya.” Tambahnya.
“Itu sangat beresiko.” Debat wanita tersebut. “Apabila suatu saat kau menyesal, maka kau akan menyesal karena mengabaikan saranku, Artsy!”
“Aku tahu. Tapi, sudah tugasku untuk tidak meninggalkannya sendirian.”
“Aku tak suka kau terus bersama dengannya!”
“Lalu apa masalahnya?” Tanya Artsy dengan keras.
“Kau terus berusaha membantunya. Itu tak mungkin berhasil, Artsy.”
“Sudah ku katakan berkali-kali, membantu Gloria adalah tugasku. Dia adalah tanggung jawabku!”
“Gloria tidak membutuhkan bantuanmu!”
“Gloria tidak membutuhkan banyak bantuanku!” Seru Artsy tak kalah sengit.
“Kau tidak pernah mengerti, Artsy.” Keluh wanita itu.
“Aku berharap kau mengerti, Eris.”

Eris tertunduk lesu, dia merasa putus asa untuk menahan Artsy yang ingin membantu Gloria. Artsy tidak dapat melihat mata Eris, tapi dia yakin bahwa Eris baru saja menjatuhkan titik-titik air mata. Artsy merangkul pundak Eris. “Sudahlah.” Kata Artsy, berharap perkataannya bisa mendinginkan suasana. “Aku tahu kau akan mengerti suatu saat nanti. Maafkan aku, Eris.” Tambahnya.

***

Eris tiba-tiba saja teringat akan perdebatannya dengan Artsy di sore itu. Dia sadar betul bahwa beberapa saat lagi, Artsy akan menyesal karena telah mengabaikan sarannya. Gloria, berdiri di samping tempat tidurnya, kini tengah mengangkat sebuah pisau dapur dan akan segera membunuhnya. Membunuhnya di rumah miliknya. Rumah yang selalu ia jadikan tempat mengasingkan diri dari hiruk pikuk sosial yang tak lagi dia gambarkan sebagai sesuatu yang harus berlangsung sebagaimana mestinya.

Tiba-tiba saja Eris bergerak dengan cepat, kedua tangannya mendorong tubuh Gloria dengan keras. Gloria jatuh terjerembab, kepalanya hampir saja membentur sudut meja. Eris beranjak dari tempat tidurnya. Dia berlari menuju ruang tengah, lalu mencari-cari sesuatu untuk mempertahankan dirinya. Dia mengeluh dalam hatinya karena baru saja dia sadari bahwa di ruang tengah rumahnya itu, tak ada satupun benda yang bisa ia jadikan alat untuk mempertahankan diri. Dia semakin panik.

Kini dia berlari menuju dapur, dia kembali mencari sesuatu untuk mempertahankan dirinya. Dia berbalik untuk melihat apakah Gloria sudah bangkit dan mengerjarnya. Sayangnya, kini Gloria telah berdiri di ambang pintu dapur.

“Apa yang kau inginkan? Mengapa kau ingin membunuhku?!” Tanya Gloria sambil berteriak. Nafasnya terengah-engah, bukan karena lelah, tetapi karena merasa panik. Gloria, sahabatnya dari kecil—setidaknya hingga kejadian dua bulan kemarin—kini sedang menggengam sebuah pisau dan akan segera membunuhnya. Aku tahu aku salah, tapi Gloria bertindak berlebihan. Pikir Eris dalam kepanikannya.

“Jangan bodoh, Gloria! Mengapa kau ingin membunuhku?” Eris kembali bertanya.
“Membunuhmu?” kini Gloria tertawa. Tawanya dangkal, tidak menunjukkan bahwa dia akan segera membunuh Eris.
“Mengapa kau tertawa, wanita gila?”
“Oh! Aku tak suka kau memanggilku dengan sebutan seperti itu, Eris.” Jawab Gloria dengan tatapan tajam pada Eris.
"Kau memang sudah tak suka denganku sejak kejadian itu, kan?"
"Dan sekarang kau mengungkit masalah itu kembali, Eris!"
"Kau ingin membunuhku karena kejadian itu, kan?"
"Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakannya lagi, bukan?"
"Lalu mengapa kau ingin membunuhku?"

Gloria kembali tertawa. Tawanya kini lebih keras daripada tawa dangkal sebelumnya. Eris menatap Gloria. Dia semakin panik ketika dia sadar bahwa wanita yang kini ia hadapi bukanlah wanita yang waras. Eris terisak. Dia menangisi sahabatnya yang kini telah menjadi wanita yang tak waras.

“MENGAPA KAU INGIN MEMBUNUHKU, BRENGSEK?” Eris kembali bertanya sambil berteriak.
“Siapa yang ingin membunuhmu? Aku hanya ingin bertanya, dimana kau menyimpan mentegamu. Aku benar-benar merasa lapar, dan karena tadi kau mendorongku hingga aku terjatuh, kini punggungku terasa sakit.”
“Apa?” Eris berkata sambil menatap Gloria yang kini sedang menahan tawa.”Tak ada lagikah cara yang lebih wajar untuk bertanya, Gloria?”
“Aku tak mungkin membunuhmu, kan? Mana mungkin aku melakukannya.”
“Ya! Kau memang tidak membunuhku. Tapi kau bisa saja membuat jantungku tak lagi berdetak. Aku kaget setengah mati!”
Kini Gloria tak bisa lagi menahan tawanya. Kini dia benar-benar tertawa.
“Kau memang gila!” Seru Eris.
“Dan kau lebih gila dariku.”

Friday, October 8, 2010

Day #6 : Pisau Dapur

“Kita sudah sampai.” Kata Eris. Ya. Kita sudah sampai. Jawab Gloria dalam hati. Rumah ini… sudahlah! Aku tak punya pilihan. Sebenarnya, Gloria sering menginap di rumah Eris, tapi itu dulu. Kini sudah ada jarak di antara mereka, mereka sudah tidak seakrab dulu lagi. Mereka bukan lagi sahabat.

Mereka berdua kini menyusuri batu-batu yang menuntun mereka dari pagar tanaman menuju pintu rumah. Rumah ini terletak di sebuah perumahan elite, tetapi tidak begitu banyak sudut rumah ini yang bisa mengukuhkannya sebagai rumah yang layak untuk berada di dalam perumahan elite. Sebenarnya ketika baru saja dibeli, rumah ini bukanlah rumah yang kacau. Sayang sekali, yang menempatinya adalah seorang wanita seperti Eris yang tidak tahan untuk tinggal bersama seorang ayah yang benar-benar kaya dan ibu tiri yang selalu mencemooh segala usahanya.

Eris kini mengeluarkan sebuah kunci dari salah satu saku celana jeansnya, memasukannya ke lubang kunci, lalu memutarnya sambil menarik gagang pintunya. Terbuka! Keluh Gloria. Eris melangkahkan kaki lebih dulu ke dalam rumah, Gloria menyusul di belakangnya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” tanya Eris kepada Gloria. “Ya. Aku tahu.” Jawab Gloria.

“Cepatlah kerjakan! Aku mulai mengantuk.” Seru Eris, sengit.
“Bisakah kau lebih ramah kepadaku, Eris?”
“Apakah membiarkanmu tinggal semalam di rumah ini tidak membuatku terlihat ramah dimatamu, Gloria?” Kata Eris, “Cepatlah kerjakan! Dan aku akan berada di tempat tidurku.”
“Baiklah. Baik… akan segera ku kerjakan.” Balas Gloria dengan cepat. Ia mencoba menghindari perdebatannya dengan Eris.

Aku bukanlah pesuruhmu! Pikir Gloria dalam hati.

Eris membuka sepatu dan kaus kakinya, lalu melempar keduanya ke sebelah meja di ruang depan. Dia membuka jaket kulitnya sambil berjalan menuju kamarnya di pojok ruang tengah. Gloria bisa melihat Eris langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, jelas sekali Eris merasa sangat mengantuk. Gloria kini berjalan menuju dapur. Dia mencoba mencari sesuatu untuk mengisi perutnya yang merasa lapar. Dia meminum segelas air mineral yang dia dapatkan dari sebuah dispenser yang terletak di sebelah kulkas dengan empat kali tegukan, lalu terbatuk-batuk kecil karena tersedak oleh air tersebut. Dia membuka lemari penyimpanan makanan, tapi dia tak melihat adanya makanan yang cocok untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Kini dia membuka kulkas. Dia melihat 5 kaleng bir dimana salah satunya telah terbuka, entah kaleng terbuka itu masih berisi atau sudah kosong.

Dia mengeluarkan satu kaleng bir yang masih utuh dan satu buah telur. Dia kembali pada lemari penyimpanan makanan, lalu mengambil dua lapis roti tawar dari dalamnya. Dia berjalan menuju wastafel, lalu melihat sebuah pisau dapur di tempat pembuangan airnya. Dia meletakkan telur dan bir yang dia ambil sebelumnya di sebelah wastafel, lalu membilas pisau tersebut. Dia mengelapnya hingga kering. Setelah kering, dia melihat pisau itu sejenak. Dia melihatnya seperti melihat sebuah benda yang menakjubkan. Gloria kini berbalik memunggungi wastafel. Dia berjalan menuju ruang tengah sambil membawa pisau tersebut. Dari ruang tengah, dia bisa melihat Eris yang sedang mencoba untuk menghilangkan kesadarannya. Dia kembali melihat pisau tersebut. Berdiri terdiam. Lalu berjalan menuju kamar tidur Eris.

Eris diam tak bergerak di atas tempat tidurnya. Sepertinya kepala Eris memang tertempel pada bantal yang ada di baliknya. Gloria berjalan menuju dirinya secara perlahan-lahan sambil menggenggam pisau dapurnya erat-erat. Lantai ruang tengah yang dingin benar-benar terasa di telapak kaki Gloria. Dia terus berjalan, dan Eris masih tetap terdiam di atas tempat tidurnya. Disisi tempat tidur itu, sebuah patung monyet kecil yang tengah memikul batu tersimpan di atas meja. Sementara itu di sebelah patung tersebut, Gloria bisa melihat sebuah piringan kecil yang baru saja ia berikan kepada Eris sebelum sampai ke rumah ini. Compact disc itu! Pikir Gloria dalam hati.

Kini Gloria telah berada di salah satu sisi tempat tidur. Gloria terdiam sejenak. Dia melihat Eris yang sedang tertidur, dan mengingat masa-masa lalu ketika dia dan Eris masih bersahabat baik. Ingatan-ingatan tentang persahabatannya itu benar-benar indah. Sayangnya, ingatan itu cukup terganggu oleh sikap Eris yang tidak begitu ramah pada Gloria malam ini. Gloria kembali terdiam sejenak, lalu sedikit mengangkat pisaunya.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Teriak Eris.


Bersambung…

Thursday, October 7, 2010

Day #5 : Pasif

Apabila bumi mempersembahkan lorong waktu, lebih baik lidah ini tak lagi kaku untuk menunjuk. Dalam kesunyian yang berulang-ulang, dan serapah akan kemunafikan, begitu pula dengan respon tatapan tak tertahankan, segalanya terlihat bodoh dalam tingkat yang tak berlangit. Telapak tangan saling bersentuhan dan lutut mulai bertekuk sebagai preparasi untuk mencegah kemungkinan jiwa ini mati di pelataran jalan. Obsesi terbentuk untuk mendalangi formalitas pendekatan emosional yang terlihat begitu konvensional. Entah apakah perlu membiaskan hati menuju opsi alternatif yang tak mampu digenggam, entah apakah anesthesia akan keberadaan dualitas dalam satu jerat kompleksitas bercahaya mulai menggerogoti nadi ini, yang jelas kebimbangan yang sarat akan posibilitas menjadi begitu nyata pada pelupuk mata yang terkoyak. Mungkin saja kematian akan terjadi dan tubuh ini akan hidup tanpa jiwa!

Wadal-wadal kini mulai menghilang. Semuanya telah menjadi imitasi yang berlalu lalang untuk kesekian kalinya. Gundah pun terulang dan jenuh jenaka mulai mencoba untuk mengendalikan sunyi. Remahan halusinasi yang teremas dalam bayang-bayang keindahan apokaliptik berubah bentuk menjadi kebahagiaan fana tampak tolol. Lampu koridor pun kini malu untuk bersinar. Mungkinkah bumi tetap ramah dengan segala keraguan ini?

Hujan mencoba mengikis makna harapan. Mayoritas kuasa propaganda yang mengakar tak bisa lagi menciptakan kepedulian. Kali ini yang diketahui hanyakah keberadaan teori sebab-akibat dari sebuah efisiensi interaksi. Pertanyaan-pertanyaan berhamburan pada meja kusam yang telah lama ditinggalkan, mengapa tak ada emosi yang terlepas dari lidah hati?

Tampak bodoh! Benar-benar bodoh! Gejolak kuat berhasrat dalam mimpi, dan sugesti pun selalu melafalkan kompresi kesunyian dalam pikiran. Oh, bebaskanlah! Mulailah mengada pada dunia yang sederhana ini! Harapan kini adalah berharap agar telapak tangan itu tergenggam dalam jemari ini.

Wednesday, October 6, 2010

Day #4 : Dialog

Bayangan itu semakin dekat, dia membawa sesuatu di tangannya. Wanita itu hanya terdiam di tempatnya berdiri. Entah mengapa, rasa takutnya tak membuat wanita itu berlari menjauh dari kejaran bayangan tersebut. Bayangan tersebut yang membawa sesuatu di tangannya. Bayangan itu semakin dekat... dekat... dan dekat. Wanita itu ingin berteriak. Oh! Terlambat! Pikirnya dalam hati. Benar-benar terlambat!

“Kau terlambat! Dan kau membuatku terkejut!” tiba-tiba saja wanita itu nyaris berteriak pada bayangan tersebut yang kini berubah menjadi wujud Gloria. Gloria, dia adalah seorang wanita yang menarik. Dia berkacamata dengan rambut hitam dan panjang terurai. Matanya bersinar cemerlang. Tubuhnya ideal dan bisa dibilang tinggi apabila dibandingkan dengan wanita lain pada umumnya. Kulitnya yang putih, terlihat sangat terawat. Dia sungguh menarik, bahkan hal itu tetap terlihat di bawah penerangan yang tidak begitu baik di malam hari ini. Kini, Gloria menggunakan sebuah t-shirt putih bertuliskan “The Suburbs” di dalam jaket kulitnya yang tak dikancingkan. Sekilas, tak ada cacat dari fisiknya, tetapi kini wajahnya menggambarkan kegalauan yang ada di dalam benaknya. Dia benar-benar kacau! Pikir wanita tersebut.

“Maafkan aku, Eris. Aku terlambat karena mencari ini.” balas Gloria sambil menunjukan barang yang sedang dipegangnya. “Bagus! Kau membawa compact disc itu!” kata Eris.
“Sekarang mana barangku?” tanya Gloria.
“Ini.” jawab Eris sambil menunjukkan sebuah barang yang baru saja ia keluarkan dari jaket kulitnya, “Benarkah kau membutuhkannya sebanyak itu?”
“Ya. Kau tahu keadaanku sekarang, kan?”
“Ya, aku mengerti. Ingatlah! Jangan pernah menyebutkan namaku sebagai pengirim barang tersebut!”
“Baiklah! Kau memang sahabat terbaikku!” balas Gloria sembari tersenyum tanggung.
“Ah, Sudahlah! Sekarang, ambil barang ini! Aku tak mau berlama-lama membawanya.”
“Terima kasih, Eris. Kuharap ini setara dengan apa yang kuberikan.” Kata Gloria sambil memberikan compact disc dan mengambil barang yang baru saja dikeluarkan oleh Eris dari dalam jaket kulitnya itu.
“Tentu saja tidak!” balas Eris dengan kasar.
Gloria menggengam barang yang baru saja diambilnya, melihat-lihatnya sekilas, lalu berkata, “Mungkin kau benar, ini sepertinya terlalu banyak.”
“Ah, terserah padamu, Gloria.”
Gloria kini terdiam
“Kemana lagi kau akan pergi?” tanya Eris.
“Aku tak tahu. Aku tak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini.”
“Ke rumahku?” tawar Eris.
“Bolehkah? Ah, terima kasih, Eris.”
“Tak perlu berterima kasih. Ada yang perlu kau lakukan di rumahku!”
“Oh, baiklah.” Gloria tampak sedikit kecewa, tapi dia sadar bahwa tak ada pilihan lain selain bermalam di tempat Eris. Dia tak mungkin kembali ke tempat Artsy. Aku tak bisa terus bertemu dengannya, pikirnya, itu bisa merusak rencanaku!


Bersambung...

Tuesday, October 5, 2010

Day #3 : Mysterons

Ruangan muram ini terasa semakin sunyi setelah Gloria pergi. Apa sebenarnya yang akan dia lakukan di tengah malam seperti ini? pikir Artsy. Linting cannabis kering yang dia hisap baru saja habis. Dia membakar sisa pahpir yang tersisa untuk menghilangkan bukti, lalu menyemprotkan pengharum ruangan agar aroma cannabis yang baru saja dibakarnya tidak begitu tercium tajam. Artsy meloncat ke tempat tidurnya, terlentang, lalu menyalakan sebatang rokok. Dia menghisap rokoknya, lalu memikirkan Gloria yang sedang dipenuhi oleh beban pikiran. Kasihan, pikirnya, tapi ini bukan urusanku. Aku tak boleh ikut campur!

Kini ruangan itu dibisiki oleh pemutar musik yang mengeluarkan suara vokal emosional milik Beth Gibbons yang tengah menyanyikan Mysterons. “Refuse to surrender, Strung out until ripped apart.” Bisik Beth. Dengarlah ini, Gloria! harap Artsy. Gloria telah merusak konsentrasi Artsy dalam Law of Attraction-nya. Artsy terus menerus memikirkan Gloria, dia ingin sekali menghiburnya, tapi caranya bukan dengan memberikan cannabis yang terbakar kepadanya. Ada cara lain yang jauh lebih baik.

“Maafkan aku, Gloria.” Dia teringat percakapannya dengan Gloria di sore hari, “Itu bukan urusanku. Aku tak bisa membantumu sepenuhnya.” Ada penyesalan di wajah Artsy. “Sudahlah, aku hanya bercerita padamu. Aku tak mengharapkan banyak bantuanmu.” Kata Gloria dengan penekanan di kata “banyak”. Wajah Artsy sedikit mengejang, dia tahu Gloria tidak begitu membutuhkan bantuannya. Hanya sedikit. pikir Artsy.

Bersambung…